Mencontoh Rasulullah SAW Dalam Khilafiyah Fiqh

Di jaman sekarang, banyak kaum muslim yang memandang khilafiyah itu sesuatu yang serius. Yang satu ngotot dengan argumennya, yang satu juga gak mau kalah dengan pendapatnya. Saling menyalahkan satu sama lainnya.

Padahal, khilafiyah (ikhtilaf), terutama dalam hukum fiqh itu sudah biasa terjadi di kalangan ulama2 terdahulu. Bahkan, di jaman Rasulullah saw pun beberapa kali terjadi ikhtilaf yang dilakukan oleh para sahabat. Ada baiknya kita mencontoh Rasulullah dalam khilafiyah Fiqh.

Ada dua hadist yang bisa kita petik pelajaran darinya, tentang sebuah khilafiyah.
Yang pertama, dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Dua orang laki-laki (si A dan si B) keluar dalam satu bepergian, lalu datang waktu shalat (padahal keduanya tidak membawa air), kemudian kedua orang itu bertayammum dengan debu yang bersih, lantas keduanya shalat, kemudian (selesai shalat) mendapati air dalam waktu itu. Lalu salah seorang dari padanya (si B) mengulangi dengan wudlu dan shalat, sedang yang lain tidak mengulangi. Kemudian kedua orang itu menghadap Rasulullah SAW, lalu menceritakan hal itu kepada beliau, maka Nabi SAW bersabda kepada orang yang tidak mengulangi (si A), “Kamu sesuai dengan sunnah dan shalatmu sudah memadai”. Dan terhadap orang yang wudlu dan mengulangi (si B), beliau bersabda, “Bagimu pahala dua kali”. [HR. Nasai dan Abu Dawud]

Yang kedua, sebuah hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Alkisah pada saat perang Ahzab berkecamuk, Rasulullah saw.menyuruh 2 orang sahabat (si A dan Si B) untuk pergi ke perkampungan Bani Quraizhah. Sebelum pergi, Rasulullah memberi sebuah pesan kepada mereka yaitu, “Laa yushalliyaannna ahadun al ‘ashra illaa fii banii quraizhah”. Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kamu sholat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Lalu pergilah si A dan si B ini menuju perkampungan Bani Quraizhah.
Di tengah jalan ternyata waktu Ashar sudah mau habis, sedangkan jarak ke perkampungan Bani Quraizhah masih cukup jauh. Apa yang terjadi? Si A berpendapat bahwa karena zhahir (memaknai secara harfiah, murni, tekstual) perintah Rasulullah saw. adalah melarang shalat ashar kecuali di tempat tujuan, maka dia tidak akan shalat Ashar saat itu walaupun waktunya habis. Biarlah sholat Ashar walau pada waktu Isya, karena zhahir perintah Rasulullah kan harus sampai Bani Quraizhah dulu baru boleh Shalat Ashar.
Nah, si B ini sebaliknya. Dia berpendapat bahwa perintah Rasulullah saw. tadi tidak bisa dimaknai secara zhahir semata. Ya aneh saja tidak boleh shalat Ashar padahal waktu mau Ashar habis. Si B ini memaknai bahwa perintah Rasulullah seperti tadi agar mereka berdua cepat-cepat ke Bani Quraizhah, sehingga bisa sholat Ashar disana. Namun apa daya masih jauh dari Bani Quraizhah waktu Ashar sudah mau habis, ya sudah, si B ini tetap shalat Ashar walaupun menyalahi zhahir perintah Rasulullah saw. tadi.
Setelah menyelesaikan misi, si A dan si B ini pulang untuk menemui Rasulullah saw. Mereka berdua penasaran donk, siapa sih yang pendapatnya benar pada saat kasus shalat Ashar? Akhirnya keduanya mengadukan hal ini kepada Rasulullah saw. dan dalam haditsnya disebutkan “Famaa ‘anifa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ahadun minal fariqoini”. Rasulullah saw, tidak mencela dua pendapat ini.

khilafiyah

Dari dua hadits di atas, kita bisa tahu bahwa ternyata yang namanya ikhtilaf dalam permasalahan keagamaan itu sudah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. masih hidup. Zaman Rasulullah saw. sudah ada ikhtilaf antar sahabat, apalagi zaman sekarang, sudah jarak kita sangat jauh dengan nabi, yang jadi patokan adalah berupa teks yaitu Al Quran dan kitab-kitab hadits.
Memahami perintah Rasulullah saw. yang berupa ucapan langsung dan menyaksikan langsung dari beliau saja dua sahabat tadi bisa berbeda pemahamannya, apalagi kita hanya mengambil dari teks yang notabene benda mati. Namun yang menarik dalam hadits tadi adalah bahwa Rasulullah saw. tidak mengatakan, “yang ini benar, yang ini salah”, atau “kamu sudah mengikuti sunnah, kamu bid’ah”.

Dalam memahami perintah/sunnah Rasulullah seperti kasus diatas, para sahabat berbeda pendapat, namun dua-duanya bermaksud mentaati Rasulullah saw. Hanya caranya yang berbeda.

Sama seperti ketika umat Islam terlibat ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan atau Hari Raya (idul Fitri atau Idul Adha). Kalau zhahir perintah nabi hilal itu dirukyat ya harus dirukyat sampai akhir zaman. Mau udah ada ilmu hisab, mau manusia sudah bisa pergi ke bulan, ya tetap harus rukyat. Nah, ini tipe pemahaman tekstual. (contoh si A)

Ada lagi yang berpendapat kalau zaman sekarang bisa disebut berpemahaman kontekstual. Memahami perintah Rasulullah tidak secara zhahir, namun disertai aspek-aspek lain dan lebih menekankan spirit daripada makna literal teks. Contohnya perintah nabi hilal itu kan dirukyat, namun kan Nabi memerintahkan rukyat memang karena waktu satu-satunya cara yang paling memungkinkan adalah merukyat, toh spiritnya adalah yang penting kita bisa mengetahui kedatangan bulan Ramadhan. Inilah tipe pemahaman kontekstual (contoh si B).

Yang harus kita contoh dalam menghadapi masalah khilafiyah adalah seperti sikap Rasulullah. Dimana beliau tidak mencela pemahaman tekstual maupun kontekstual dalam memahami teks-teks keagamaan atau hukum fiqh.

Perbedaan, justru akan membuat nuansa hidup kita bisa lebih berwarna dan bermakna. Misalkan kita umat muslim Indonesia sudah biasa kadang-kadang hari raya berbeda. Biasa aja. Nah, ketika suatu saat hari raya kita sama, akan ada nuansa yang berbeda. Akan jadi lebih wah dan enak.

Namun, perbedaan juga bisa menjadi sebuah laknat manakala kita tidak mau menerima perbedaan itu sendiri. Minimal menjadi laknat bagi diri sendiri kalau kita anti perbedaan, melihat ke kanan beda, aduh tidak nyaman. Melihat ke kiri beda, aduh tidak nyaman. Betapa tersiksa hidup orang yang anti perbedaan semacam itu.

Akhir kata, persatuan bukanlah penyatuan. Penyatuan adalah membuat segala sesuatu seragam, sedangkan persatuan adalah mengikat komponen-komponen yang beragam dalam satu kesatuan agar berjalan beriringan dan harmonis. Unity, but not uniform.

Wallahu a’lam.

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *