Aku Ingin Menikah Karena Dakwah, Bukan Semata Karena Cinta

Teman saya ini seorang yang sederhana, nyaris di segala sikap dan tutur kata.

Apakah engkau tahu pandangannya tentang pernikahan?

“Itu adalah sesuatu yang akan didatangkan Allah pada saat diperlukan.”

Begitu sederhana, lebih tepat sebagai sikap pasrah. Oleh karena itulah saya bertanya, “Tidak merencanakan? Tidak memilih akhwat mana yang akan kau jadikan ibu dari anak-anakmu?”

Dia hanya tersenyum, “Allah akan mendatangkan berikut segala perangkat yang diperlukan hamba-Nya.”

Saya selalu tertegun setiap melihat betapa kehanifan begitu nyata pada dirinya, begitu lurus, begitu tawaddhu’. Caranya memandang hidup selalu dengan mata yang berbinar-binar, kepercayaan yang tinggi bahwa Allah punya skenario yang jelas atas hidup seorang manusia.

Hanif, teman saya ini, nyaris tak pernah mengeluh. Saat ia begitu kesulitan mencari pekerjaan, ia tak perlu resah. Ia selalu bergerak dan itu yang diyakininya bahwa Allah yang akan mendatangkan rizki, di mana dan kapan pun manusia berada. Rezeki telah jelas alamatnya, tetap dan tepat, tidak akan berkurang sesuai yang telah dijatahkan, akan didatangkan sesuai dengan waktunya, serta sesuai dengan keperluannya.

Saya tak berlebihan menyebutnya tak pernah mengeluh. Selepas SMA, Hanif yang satu tingkat diatas saya itu tak mau pergi merantau sebagaimana teman-temannya yang lain, mencari pekerjaan ke kota.

“Aku lebih bermanfaat di sini, Wie! Di kota sudah banyak ustadz, sudah banyak orang yang concern terhadap dakwah. Sementara di sini, siapa yang akan melakukannya? Lihatlah adik-adik TPA, siapa yang akan membimbing mereka jika semua pergi.”

Saya mengangguk-anggukan kepala. Saat itu saya tersindir karena saya adalah salah satu dari yang ‘pergi’.

“Bukankah engkau juga perlu dunia , Mas?”

“Tentu saja. Tapi, apakah di sini tidak ada dunia?”

“Pekerjaan? Gaji Besar?”

“Di sini aku bekerja. Gaji besar? Kaupikir gajimu lebih besar dari gajiku?”

“Maksudku gaji dalam bentuk uang, Mas, bukan gaji di akhirat. Berdakwah memang perlu dan penting. Tapi jika aktivis dakwah tidak bekerja, dia akan menjadi beban orang tua, mungkin beban masyarakat.”

“Aku tidak akan menjadi beban orang tua, apalagi masyarakat”

Tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *