Kasih Dari Sang Pengasih

Kemana truk Papa yang dulu hampir berjumlah dua puluh itu ? Sederhana saja : dijual satu persatu. Mengapa? Untuk apa?

Ketika usahanya berhasil, Papa tak pernah berpaling sedikit pun dari teman-temannya. Maka ketika hari berlalu dan satu per satu teman Papa muncul di rumah kami dengan wajah keruh dan pias, satu demi satu truk dari usaha transportasi Papa pun digadaikan. Hasil penggadaian itu dipinjamkan Papa pada mereka untuk membuka usaha yang lebih menjanjikan.
Tahun demi tahun berlalu. Truk Papa semakin sedikit, sementara uang Papa yang dipinjam hampir tak ada yang kembali. Ujung-ujungnya tak satu truk pun tersisa. Usaha transportasi Papa habis sudah.

“Papa ingin berbuat baik. Papa berharap dan berdoa, semoga dimana pun anak-anak Papa nanti berada, orang akan memperlakukan kalian seperti Papa memperlakukan mereka,” ujar Papa padaku sambil tersenyum, sewaktu aku beranjak remaja.

kasih dari sang pengasih
Aku berumur 26 tahun dan telah menikah, ketika Papa meninggal, tahun 1996, banyak sekali orang yang datang melayat. Aku tak mungkin melupakan mata basah teman-teman Papa, wajah para tetangga, para bekas pegawai Papa. Lalu tangis para tukang kue, hansip, tukang sampah, tuang loak, tukang roti, dan entah siapa yang memenuhi halaman rumah kami.

“Ketika akan memberhentikan saya karena usahanya bangkrut, Bapak memberikan sepedanya pada saya. Katanya untuk modal …,” suara serak seorang lelaki berkulit gelap, bekas pegawai Papa dulu.
“Bapak selalu memanggil kalau saya lewat di depan rumah ini. Ia memberikan pajangan, baju, barang-barang apa saja agar saya bisa menjualnya dan mendapatkan uang untuk makan sehari-hari. Bapak bilang saya boleh menggantinya kapan-kapan…,” kata tukang loak yang hampir tiap hari lewat di depan rumah kami, sambil terisak-isak.

Mama menatap mereka semua dengan mata berkaca-kaca. Ya, Mama bukannya tidak tahu ketika Papa secara sembunyi-sembunyi memberikan sesuatu pada orang yang membutuhkannya. Tetapi kelembutan dan ketulusan hati Papa membuatnya hanya mampu terdiam.

Ya, kelembutan hati Papa sangatlah menggetarkan dan membekas dalam. Ketika aku menikah dengan seorang pria Aceh, kelembutannya pula yang membawanya dan Mama untuk menerima kami, menerima keislamanku. Padahal kami adalah keluarga Katolik yang taat. Kemudian aku pindah ke Jakarta. Saat itu Papa yang menetap di Bandung, mulai sering control ke rumah sakit karena komplikasi liver, diabetes, dan jantung. Namun ia masih sering memaksakan diri menjenguk anak-anakku sambil membawa balon-balon warna-warni, yang didalamnya berisi pasir-pasir halus.

“Mana pasturnya?” suara Mama mengejutkanku.
Hening. Angin mendesir, menerobos masuk melalui pintu dan jendela rumah yang terbuka, menembus seluruh ventilasi, menyisakan dingin. Secara bersamaan kami menatap sosok pucat yang terbaring tenang dalam peti mati, tak jauh di hadapan kami.
Tiba-tiba, tiga orang pelayat, dengan langkah cepat menghampiri Mama. Pak RT, seorang
tetangga, dan …
“Jangan panggil pastur, Bu!” seru mereka hampir berbarengan.
“Bapak telah menjadi Muslim enam bulan yang lalu!” seru tetangga kami yang kemudian
kuketahui sebagai Ketua Badan Ta’mir Masjid.
Orang-orang bergumam. Mama terpaku. Tangisku pecah.
“A… apa buktinya?” Tanya Mama kemudian dengan terbata-bata.
“Bapak menyimpan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah bantalnya, Bu. Begitu kata Bapak
kepada saya.”

Kami bergegas menuju kamar Papa. Beberapa carik kertas bertuliskan syahadat, Al Fatihah, ayat kursi dan yang lainnya kami temukan di dalam sarung bantal yang dikenakan Papa selama ini. Di antara kertas Koran berbahasa Cina, yang terlipat dua.
Kami tertegun. Mama dan saudara-saudaraku yang lain berkata memang akhir-akhir ini sering melihat Papa membaca Koran lusuh berbahasa Cina…, ternyata dibaliknya terdapat ayat-ayat ini. Mungkin ia mencoba menghafalkannya. Meski Mama tampak terpukul dengan kenyataan ini, penyelenggaraan jenazah Papa dilakukan
secara Islami.

Bagaimanapun aku tiada hentinya bersyukur. Alhamdulillah, hidayah itu datang. Subhanallah, Allah telah memberikan akhir yang baik kepada Papa. Rasa kasih yang selama ini Papa tujukan pada sesama, menjadi lebih berarti lagi.
Kuusap air mataku dan tersenyum, kala mengingat betapa menjelang akhir hayatnya, Papa tak mempunyai apa-apa. Ia bahkan hanya memiliki dua potong celana panjang dan beberapa helai piyama. Satu-satunya peninggalan Papa yang paling banyak hanyalah sapu tangan.

Sampai hari ini, saat mengunjungi kuburan Papa, aku masih sering menahan haru. Aku pun bisa berlama-lama duduk di sisi makam, sambil menatap nama “Leo Arifin” yang terukir di batu nisan dengan rasa bangga yang tak putus-putus. Di sini terbaring seorang laki-laki pengasih yang dikasihi banyak hati, dan mendapat kasih
sejati dari Sang Maha Pengasih.

 

(Oleh Maria Eri S. & Helvy Tiana Rosa, Dari buku: Pelangi Nurani) dengan edit seperlunya untuk penyesuaian bahasa
Tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *