Kekhawatiran Para Sahabat Rasulullah

~ Abubakar Ash-Shiddiq ~
Beliau berkata, “Aku menginginkan diriku seperti sehelai rambut dibelah orang Mukmin.” Riwayat ini disebutkan oleh Imam Ahmad.
Diriwayatkan pula tentang Abu Bakar ash-Shiddiq memegang lidahnya lalu berkata, “Inilah yang menyeretku ke tempat yang berbahaya. Lalu Abubakar menangis seraya melanjutkan: “Menangislah, kalau tidak menangis, pura-pura menangislah.” Lalu ia berdiri shalat. Ia seperti sebuah tiang: tak bergerak karena takut kepada Allah.
Saat membawa seekor burung, ia berkata “Tiada diburu dari seekor binatang buruan, dan tiada dipotong dari sebuah pohon kecuali hilang dengan tasbih.”

Ketika mendekati saat-saat kematian, la berkata kepada Aisyah, “Wahai puteriku, sesungguhnya aku terkena harta orang-orang Islam dengan pakaian ini dan susu ini serta budak ini. Maka, cepat-cepatlah pergi kepada Umar ibn Khathab.” Umar menjawab, “Demi Allah, aku ingin sekiranya aku menjadi pohon ini, yang dimakan dan
dipangkas daunnya.” Qatadah berkata, “Telah sampai kepadaku kabar bahwa Abubakar berkata, ‘Seandainya aku menjadi sayuran hijau dan aku dimakan binatang….'”

~ Umar ibn Khathab ~
Demikian juga Umar ibn Khathab. Sahabat setia rasul ini telah membaca surat at-Thur. Ketika sampai pada ayat, “Sesungguhnya siksa Tuhanmu pasti terjadi”, ia menangis tersedu-sedu hingga jatuh sakit dan banyak orang menengoknya.
Umar berkata kepada puteranya saat menghadapi kematian, “Letakkanlah pipiku di atas tanah. Barangkali Allah menaruh belas kasih kepadaku.” Lalu berkata lagi, “Celakalah kalau Allah tidak mengampuni aku.”
Bila berwirid di tengah malam dan melewati suatu ayat, anak Khathab ini merasa takut lalu tinggal di rumah berhari-hari. Pada wajahnya tampak ada dua garis hitam karena menangis. Demikian berdasar penuturan
Ibnu Jauzi.
Ibnu Abbas berkata kepada Umar, “Allah menjadikan kota dan negeri-negeri dibawahmu, menjadikanmu menaklukkan negeri-negeri tersebut. Allah berbuat baik kepadamu.” Mendengar hiburan tersebut, Umar masih saja merasa cemas, “Aku menginginkan selamat, bukan pahala maupun dosa.”

 

~ Utsman ibn Affan ~
Ketika berdiri di atas kuburan, Utsman lbn Affan  menangis hingga basahlah jenggotnya. “Seandainya berada di antara surga dan neraka, aku tidak tahu yang mana diantara kedua tempat itu kekhawatiran para sahabatyang diperintahkan untukku. Kalaulah bisa, aku memilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana aku nanti.”

~ Ali ibn Abu Thalib ~
Inilah Ali ibn Abi Thalib  dengan tangisan dan kekhawatirannya. Rasa takut yang ada padanya disebabkan dua hal, yaitu panjang angan dan hawa nafsu yang diperturutkan. Sepupu Nabi ini merenungi hakekat. la berkata, “Panjang angan akan menjadikan seseorang lupa akan akhirat, sementara hawa nafsu yang diperturutkan akan menghalangi
orang dari kebenaran. Sesungguhnya dunia ini telah pergi dan akhirat telah tiba. Setiap wanita yang mempunyai banyak anak, hendaknya menjadikan mereka anak-anak akhirat, dan janganlah menjadikan sebagai anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah hari amal dan bukan perhitungan. sedangkan besok adalah hari perhitungan tanpa amal.”

~ Abu Darda’ ~
Abu Darda’ mengungkapkan risau hatinya, “Sesungguhnya yang paling aku takuti terhadap diriku pada Hari Kiamat adalah kalau – kalau dikatakan kepadaku, ‘Wahai Abu Darda’, engkau telah banyak berilmu. Bagaimanakah engkau mengamalkan ilmumu?'”

Sumber: Ad-Da’u wa ad-Dawa (Terapi Penyakit Hati), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hal. 60—63.
Tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *