Allah Maha Pemurah Ya Mas

“Maafkan suamimu, ya, dik, sampai saat ini belum bisa membelikanmu rumah, perabotan, atau apa
saja. Ah…, masmu ini belum bisa memberikan apapun untukmu.” Sebuah kelembutan hinggap di keningku diiringi belaian sayang di kepalaku. Kutatap wajah bersih yang sarat kasih di hadapanku. Aku tersenyum.
“Sabar, ya, Sayang?”
Lagi-lagi aku tersenyum sambil memandangi dasterku yang sudah pada bolong. Ungkapan itu membawaku pada baju, kerudung, pakaian-pakaian kami yang jarang baru atau bahkan sudah mulai rusak. Kadang-kadang saja kusempatkan diri ke pasar membeli celana-celana sepuluh ribuan untuk anak-anak kami.
“Kau tidak apa-apa, Dik? Bahkan uangmu banyak kau berikan padaku.”
Aku tersenyum lagi. “Ah… jangan pikirkan itu, Mas. Yang penting kita selalu berusaha sabar dan syukur. Aku merasa Allah selalu memberi kemurahan kepada kita. Kita tak pernah kekurangan.”
Aku jadi teringat ketika kami berdua memutuskan hengkang dari Jakarta dan memilih pindah ke daerah untuk bisa mengoptimalkan gerak dakwah.
“Apa yang akan kau lakukan di sana untuk kehidupan kita Mas?”
“Abdurrahman Bin ‘Auf meminta ditunjukkan letak pasar ketika pertama kali hijrah ke Madinah.”
jawaban itu melegakanku. Ada optimisme dan kemauan bekerja keras kulihat. Akupun tak merisaukan keputusannya mundur dari perusahaan.
“Ustadz  memberikan nasihat yang menyemangatiku, Dik. Yang penting terus bergerak dan jangan pernah diam.”
Aku makin lega.
Ah, ternyata hari-hari tidaklah mudah. Suamiku berlum mendapat pekerjaan. Aku hanya mendapat gaji enam ratus ribu rupiah per bulan sebagai kepala sekolah TK. Di saat sulit itulah turun pinjaman modal dari sebuah lembaga dengan bunga rendah. Waktu itu, seseorang yang berniat menolong kami, tanpa sepengetahuan kami telah mengajukan kami sebagai peminjam dan ternyata pengajuan itu disetujui. Malam-malam uang itu diantar. Masya Allah, kami berdua tak bisa tidur menggenggam uang riba itu. Kulihat suamiku sangat gelisah, bahkan aku tak mampu menahan tangis.
“Besok pagi, kembalikan uang ini, Dik. Kita tak boleh mengotori kesucian niat dakwah kita dengan seperti ini.”
“Mas benar, kita harus menghindarkan diri kita dan anak-anak kita, rumah tangga kita dari harta yang tak benar.”

Keputusan itu membuat kami tenang. Esoknya, uang itu kamikembalikan. Subhanallah! Alhamdulillah! Inilah saatnya Allah menampakkan janji-Nya, benar apa yang kami pelajari dalam makna syahadatain, bahwa Allah itu Razaaqan. Tanpa diduga, suami saya mendapat order menggambar peta kecamatan dari seorang teman yang bekerja di perpajakan, dan dari teman yang lain, ia mendapat tawaran menjadi distributor minyak wangi dengan sistem konsinyasi.
Getar syukur mengantarkanku tersungkur dalam sujud, berterima kasih atas kemurahan-Nya. Hari-haru
selanjutnya, suamiku berprofesi sebagai penjual minyak wangi nonalkohol. Menawarkan dagangan dari wartel ke wartel, dari toko ke toko, naik turun angkot, tidak efisien memang, tapi apa boleh buat, kami tak memiliki kendaraan.
Tak lama kemudian Allah lagi-lagi melimpahkan karunia-Nya. Sebuah penerbit menyetujui naskah yang aku kirimkan. Rasa haru menyelimuti kami. Rasa syukur makin kokoh Allah tancapkan di dada kami. Kembali kau tersungkur dalam sujud dan deraian tangis. Segala puji bagi Allah, Allah Maha Kaya. Dengan penuh semangat sambil mengasuh kedua balita kami, aku membuat tulisan di kertas-kertas bekas, di buku tulis, dan suamiku mengetiknya di komputer jadul yang suaranya seperti bunyi jangkrik di keheningan malam. Tak sampai sebulan tulisan itu kelar. Bahagianya susah digambarkan.
“Dik, Allah selalu memenuhi kebutuhan para hamba-Nya, ya? Coba kita pikir, bagaimana kita bisa berkecukupan seperti ini? Bahkan boleh dibilang kita tak berutang. Padahal kita dalam satu minggu minimal harus dua kali bolak-balik ke Ngawi untuk kajian pekanan. Belum lagi sebelumnya harus ke Magetan (jaraknya sekitar 30-an km dari rumah). Terkadang harus datang ke Surabaya untuk pertemuan-pertemuan yang dananya juga dari kantong kita sendiri. Belum kalau harus ngisi pengajian insidental, dari mana dananya? Secara metematis, tak masuk akal.”
“Allah Maha Pemurah, Mas. Maha Pemberi Rezeki.”

Allah Maha Pemurah
Suatu saat suamiku berkata lagi padaku, “Dik, masmu sibuk terus, tidak bisa sepenuh waktu mencari nafkah untukmu. Kasihan kau, Istriku.”
Seperti biasa, aku tersenyum. Aku dan suami sudah tidak di Ngawi tetapi pindah ke Brebes. Beliau sering keluar, muter-muter, duduk di depan komputer. Aku memahami, mendukung dan menyukainya. Aku sadar bahwa kami harus saling memberi dukungan dalam kebaikan. Aku teringat saat kesibukanku lebih banyak ketimbah suami. Beliau tak pernah menghambat bahkan selalu mendorong. “Menginaplah di rumah temanmu kalau nanti kemalaman dan tidak ada bus.” begitu kata beliau ketika aku berangkat kajian pekanan yang jaraknya cukup jauh, 20 km. Jika kesorean sudah tidak ada angkot dan Allah belum memberikan kendaraan untuk kami.
Alhamdulillah belim sampai harus menginap-menginap, royalti tulisanku ditambah sedikit simpanan perhiasanku, bisa untuk membeli motor. Maka bagaimana mungkin aku mengendorkan semangatnya?
“Saya harus membantu dengan terus menulis ya Mas. Yang penting , Mas tetap semangat mencari nafkah dan tidak mengabaikannya.”
Kulihat kelegaan terpancar di wajahnya. Sebagai istri, sudah seharusnya aku bersyukur bersuamikan beliau. Beliau memang bukan tokoh hebat, bukan pula manusia luar biasa, sama seperti istrinya. Bukan pula seorang orator dan tak pandai beretorika. Ia seorang laki-laki yang biasa-biasa saja, namun kelurusan akhlak, kehalusan budi, semangat dakwahnya membuat wilayah keluarga kami menjadi nyaman dan dinamis.
Selama tujuh tahun lebih menikah, tak pernah terlontar kata-kata kasar padaku apalagi memarah-marahi.
Nasihatnya santun penuh hikmah. Selama tujuh tahun lebih menikah, tak pernah aktivitas dakwahku dihambat, bahkan beliau selalu mendukung dan membantu. Gantian momong anak, mencuci, bahkan sesekali memasak atau membuatkan teh manis atau segelas susu untukku adalah bantuan dan support yang tak terkira.

Dan akan selalu kubisikkan padanya, “Janganlah resah dan gelisah, Allah bersama kita, Allah mahakaya dan akan
mencukupi kebutuhan para hambaNya yang senantiasa bertawakkal kepada-Nya. Allahu razaaqan ya, Mas.”
Maka ketika suatu saat suamiku berpamitan denganku untuk urusan dakwah atau mencari nafkah yang mengharuskannya menginap, aku pun akan melepaskannya dengan senyum dan penuh kasih sayang. Dan kuperhatikan titipan yang selalu disampaikannya.
“Dik, catatan utang-piutang ada di buku ini, di disket ini. Ini utang-utang mas, ini uang yayasan, uang koperasi, uang… (beliau bendahara di beberapa tempat, bendahara tanpa gaji, semoga Allah mencatatnya sebagai amal shalih).” Wasiat dan kerapian pencatatan menggambarkan keteraturan hidup dan sikap amanahnya.
“Semoga Allah selalu memudahlan resekimu, Mas. Rezeki di dunia dan akhirat berupa kemudahan
mendapat pahala yang berlipat. Allahu razaaqan, ya, Mas…”

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *