Kepak Sayap Pena

Penulis : Muttaqwiati

 

*************

Kupunguti asam-asam yang berjatuhan diterpa angina. Lumayan… walaupun semuanya hanya lima belas biji. Perlahan asam itu kukupas, kutaruh di tampah, dan kujemur diterik matahari. Setiap hari aku mengumpulkannya. Kupikir tak ada salahnya. Per kilo bisa laku Rp 15.000. Yah, bisa buat belanja sehari.
“Mi, ada tamu,” teriak anak pertamaku yang berusia empat tahun.
Segera kutinggalkan rimbun pohon asam. Kucuci kaki yang belepotan lumpur.
“Subhanallah…! Ibu-ibu…?”
Hatiku gembira tak terkira. Sungguh tak menyangka mereka bertandang ke sini. Ya, sejak kedatanganku di kampung ini, sebuah kampung di Jawa Tengah, aku memang sudah berkunjung ke rumah tetangga.
Memang, suamiku bukanlah orang asing di kampung ini. Beliau lahir dan besar disini. Namun sudah lama sekali ia meninggalkan kampung, yakni sejak kuliah di Jakarta dan menikah denganku. Hanya sesekali saja suamiku berkunjung dan berlibur disini, di rumah orang tuanya.
Beberapa waktu lalu kami pulang. Rencananya kami akan menempati rumah Bapak dan Ibu. Tapi… sungguh tak menyangka, rumah itu ternyata menjadi sengketa. Akhirnya kami harus menempati rumah berukuran 6 X 2,5 meter dan mengurus kebun yang tidak terlalu luas. Untuk membangun rumah di kebun itu biayanya terlalu mahal. Masih harus diuruk segala.
“Bu, kok bengong …?” salah seorang tamu menepuk pundakku.
Aku tersenyum. “Wah … mau ditaruh dimana, nih, kita?” seorang ibu berperawakan seksi dengan
dandanan menor berkata sinis. Belakangan baru aku tahu namanya Bu Retno.
Lagi-lagi aku tersenyum. Untunglah di depan rumah masih ada teras sedikit. Disitu kutaruh kursi-kursi
dan meja bambu.
“Mari silakan duduk, Ibu-ibu …”
“Ooo …, disini, to, ruang tamunya.”
“Ssst … jangan gitu, to, Bu.” Seorang tamu setengan berbisik sembari menyikut perut Bu Retno.
“Lha, memang iya.”
Setelah berbincang-bincang sebentar, aku ke dalam membuatkan minuman. Kulihat bu Retno melongok-longok ke dalam rumah.
“Alah … sok amat. Lihat, tuh… ada kulkas, magic jar, komputer. Orang miskin saja. Lihat, apa
pantas rumah sesempit ini dipenuhi barang mewah? Tapi aduh…kasihan. Dipandangnya jadi satu
dengan barang-barang itu. Sumpek !” Bu Retno mulai lagi.
Kusabar-sabarkan hatiku. Dengan tenang aku keluar membawa nampan berisi minuman.
“Ngomong-ngomong, suami kena PHK kok pulang kampung? Duh kasihan…!”
“Bu Retno…” teman-teman mengingatkan.
“Lha, nanya nggak boleh, to? Sekarang ini Negara sedang gonjang-ganjing, ibu-ibu. Perekonomian
bangsa lagi semrawut. Orang-orang yang tidak professional kerjanya yang tidak kualified harus out. Adik saya yang jadi direktur ASTRA juga bilang, karyawannya banyak yang kena PHK. Kasihan Bu Umaimah ini, ya?”
Pedih juga mendengar omongan perempuan bergincu itu, tapi aku harus sabar.

“Sejak kapan kena PHK-nya, BU?”
“Kami memang sengaja pulang ke sini bu, untuk menjadi penerus Bapak mengurusi masjid disini. Bukan karena PHK.”
Bu Retno diam dan langsung mengajak yang lain pamit.

Tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *