Akhwat Mubazir

“Kok disisain banyak gini, Lin?” Aku melotot melihat onggokan nasi dan cap cay yang memenuhi

piring.

“Udah kenyang! Nggak kuat lagi Ra!” Meilin memegangi perutnya.

“Kenapa tadi dibeli? Porsi capcay di sini kan emang banyak banget, harganya aja dua puluh rebu,” aku

menatap Meilin gemas. Akhwat sipit itu cuek aja mengambil tisu dan mengelap mulutnya.

“Yaa. Tadi kan aku lagi laper, Ra…”

“kamu nggak sayang, Lin? Dua puluh ribu cuma kamu habisin seperempatnya doang?” tanyaku lagi.

“Aku mah lebih sayang sama badanku, Ra! Daripada makan berlebihan, badanku yang rusak,

hayoo!”

 

Aku geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang. Pusing melihat kelakuan Meilin yang

telah berulang kali seperti ini.

“Yah.. terserahlah!” seruku akhirnya. Meilin tersenyum lebar sampai kelihatan kayak lagi merem,

matanya yang sudah kecil tambah nggak kelihatan.

 

“Mas, jus mangganya satu!” Meilin memanggil seorang pelayan melintas.

“sebenarnya kamu kenapa sih, Ra? Aku perhatiin… kayaknya kamu nggak pernah seneng nganterin

aku makan di sini.”

Aku menggeleng cepat.

“Bukan! Bukan kayak gitu, Lin! Aku cuma ngerasa kamu boros aja kalau makan di sini.”

“Boros?” Meilin mengernyitkan kening, “Boros gimana maksud kamu?” Dia mencondongkan

wajah ke arahku minta penjelasan.

“yah… kalo di tempat makan deket stasiun sana harga capcay kan cuma sepuluh ribu, jus cuma enam

ribu, kamu malah makan di sini. Capcay dua puluh ribu, jus sepuluh ribu. Padahal kalau menurutku, rasa

di sini sama saja, cuma menang tempat doang.”

Gantian Meilin yang geleng kepala, tersenyum sambil menyandarkan punggung ke belakang kursi.

“Kalau soal makan, aku nggak mau di sembarang tempat, Ra! Kamu tahu sendiri kan banyak

makanan yang nggak sehat pengolahannya, pake pengawet lah, formalin, dan kawan-kawan. Nah,

kalau di tempat ini aku udah yakin halal dan bersih. Bukankah itu yang seharusnya lebih penting

untuk diperhatikan?”

 

Aku terdiam, “Benar juga sih. Tapi kalau gitu, lebih baik lain kali kita makan bareng aja, satu piring

berdua, gimana? Daripada mubazir, temannya setan”

“Iih… kamu nggak risih apa makan satu porsi berdua?” Meilin mengernyit.

“Memangnya kenapa?” Aku ikutan mengernyit.

“nanti dikira orang-orang, kita nggak mampu beli lho!”

fiksi islami

 

Deg. Ada jarum beracun tertancap di jantungku.

“Lagipula tenang aja, nggak bakal mubazir kali… kan sisa-sisa makananku ini bisa dimakan kucing,

tikus, bisa juga dijadiin pupuk alami, mana ada yang nggak berguna.”

Si pelayan datang dan menaruh segelas jus mangga ke atas meja. Meilin langsung mengambil uang dalam

dompetnya dan membayar lunas pesanannya. Kemudian ia menyedot jus mangganya, mengambil

tisu lagi ,mengelap mulutnya lagi, lalu mengajakku pulang.

“Yuk, cabut!”

Aku melotot melihat jus mangga yang masih tersisa lebih dari setengah gelas besar itu.

“Meiliiin! Habisin dulu! Ini sepuluh ribu tauuk!” Omelku. Meilin cuma mengangkat bahu.

“Agak asem, aku nggak suka, buat pupuk aja. Yuk ah!”

Seperti ada orang yang menggoreng jantungku, panas banget.

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *